Metode yang dipakai
Kalkulator ini memakai kerangka analisa usaha tani yang baku dan lazim dipakai dalam buku ajar agribisnis serta kajian kelayakan usaha perikanan:
| Ukuran | Rumus | Arti |
|---|---|---|
| Total biaya (TC) | biaya tetap + biaya variabel | Semua uang keluar per siklus |
| Penerimaan (TR) | kg panen × harga jual | Uang masuk dari panen |
| Keuntungan | TR − TC | Untung bersih per siklus |
| R/C ratio | TR ÷ TC | > 1 untung, = 1 impas, < 1 rugi |
| BEP harga / HPP | TC ÷ kg panen | Harga jual minimal agar tidak rugi |
| BEP produksi | TC ÷ harga jual | Kg panen minimal agar tidak rugi |
| Balik modal (payback) | investasi ÷ (keuntungan + penyusutan) per tahun | Berapa lama modal kolam kembali |
Biaya tetap tidak bergantung jumlah panen (penyusutan kolam & alat, sewa). Biaya variabel ikut naik bila produksi naik (benih, pakan, listrik, probiotik, tenaga kerja). Kebutuhan pakan dihitung dari FCR: (berat panen − berat tebar) × FCR.
Cara membaca hasilnya
- Lihat HPP dulu. Bila HPP mendekati harga jual di pasar Anda, usaha sangat rawan: sedikit saja harga turun atau ikan mati, langsung rugi.
- R/C ratio di atas 1,2 umumnya dianggap cukup aman terhadap naik-turun harga.
- Perhatikan tabel kepekaan. Usaha yang baru untung bila semua berjalan sempurna sebenarnya berisiko tinggi.
Tiga pengungkit untung terbesar
- Persentase hidup (SR). Setiap ikan mati membawa biaya benih dan pakan yang sudah keluar. Jaga kualitas air dan cegah penyakit sejak awal.
- FCR. Pakan biasanya 60–70% biaya. Turunkan FCR dengan pakan yang pas (lihat kalkulator pakan) dan air yang sehat (lihat kalkulator amonia).
- Harga jual. Jual langsung ke pembeli atau olahan (fillet, asap, abon) sering memberi harga lebih baik daripada ke tengkulak.
Angka contoh hanya ilustrasi dan bisa sangat berbeda di tiap daerah dan waktu. Hasil kalkulator adalah perkiraan untuk perencanaan, bukan jaminan keuntungan.
